Jumat, 05 Januari 2018

Makalah Tafsir Tahlili QS. al-Anfal 32-34



Tafsir Tahlili al-anfal: 32-34
oleh :
Farid Muhlasol
Ikmal Ramadhan 
PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya mengandung kebenaran. Al-Qur’an diturunkan bertujuan untuk membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya. Dan juga al-Qur’an  diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.
 Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap al-Qur’an maka Allah akan menimpakan adzab yang sangat pedih.
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang balasan orang-orang yang menantang Allah serta menentang kebenaran al-Qur’an. Begitu kerasnya penantangan mereka sehingga mereka meminta untuk diturunkan adzab. Mereka menganggap al-Qur’an tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala.  

PEMBAHASAN
Tafsir Tahlili QS. Al-Anfal: 32-34 tentang
Permintaan Orang-orang Musyrik terhadap adzab Allah SWT dan pencegahan adzab Allah terhadap mereka karena memuliakan Nabi SAW.
بسم الله الرحمن الرحيم
وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan ingatlah ketika mereka orang-orang musyrik berkata, “Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih. Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang  berhak menguasainya? orang  yang berhak menguasai-Nya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’’ (QS. Al-Anfal: 32-34).
 




A.     Qiraat.
السَّمَاءِ أَوِ  Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr membaca dengan Ibdal/menggati Hamzah kedua dengan Ya’ khalisah saat washal.
 أَوِ ائْتِنَا  Warsy dan al-Susi membaca dengan mengganti huruf Hamzah yang sukun dengan Ya’ Maddiyah أوِيْتِنا. Sedangkan Hamzah membaca Ibdal saat waqaf saja.[1]
B.     Mufradat Lughawiyah
إِنْ كَانَ هَذَا  yang dimaksud kata هذا  adalah apa yang dibacakan oleh Nabi Muhammad (Al-Qur’an). هُوَ الْحَقَّ  yaitu kebenaran yang diturunkan.  أَلِيمٍ sesuatu yang memedihkan dikarenakan keingkaran mereka terhadap al-Qur’an. لِيُعَذِّبَهُمْ untuk mengadzab mereka sesuai dengan apa yang mereka pinta. وَأَنْتَ فِيهِمْ karena adzab itu turun secara umum, dan suatu umat tidak akan diadzab kecuali setelah keluarnya Nabi dan orang-orang mukmin dari Mekah. يَصُدُّونَ menghalang-halangi Nabi dan orang-orang muslim.
C.    Asbab al-Nuzul
Ayat 32
وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمّ Ibnu Jarir al-Thabari menyatakan  dari Sa’id bin Jubair  dalam firman-Nya  وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ dia berkata: ayat ini turun berkenaan dengan Nadhr bin Harits ketika dia berkata: إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu), maka Nabi SAW berkata kepada Nadhr bin Harits: “Celakalah kamu, itu sungguh firman Allah SWT”. Maka Nadhr bin Harits menjawab: “Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau maka hujanilah kami dengan batu dari langit”. 

Ayat 33
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, dia berkata: Abu Jahl bin Hisyam berkata:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيم
“Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih”. Maka turunlah ayat  وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ  (Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka,selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka”).[2]
D.    Munasabah Ayat
Pada ayat 32 terdapat keterkaitan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 31 yang berbunyi:
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
yang mana pada ayat 31 dijelaskan bahwa setelah ayat-ayat al-Qur’an dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang kafir, maka mereka mengatakan “Sesungguhnya kami telah mendengar” ayat-ayat ini , maksudnya di sini adalah mereka mengatakan bahwa sebelumnya mereka sudah sering mendengarkan seperti apa yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk mereka, sehingga mereka mengatakan bahwa ayat-ayat yang dibacakan tadi terdengar biasa-biasa saja, tidak ada keistimewaan sama sekali. Kemudian mereka berkata “kalau kami menghendaki niscaya kami dapat mengucapkan seperti ini”. Maksudnya adalah mereka bisa membuat karya-karya sastra seperti ayat-ayat al-Qur’an kapan saja, namun pada kenyataannya mereka tidak mampu membuat satu karya pun yang serupa dan dapat menandingi ayat-ayat al-Qur’an, bahkan para kritikus menilai bahwa karya-karya sastra mereka sebelum dan sesudah turunnya al-Qur’an kesemuanya sangat kecil jika dibandingkan dengan al-Qur’an, ini adalah pengakuan tokoh-tokoh mereka sendiri.[3]  Kemudian mereka menganggap al-Qur’an ini adalah hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala yang tertulis dalam kitab-kitab yang tidak jelas kebenarannya,[4] sebagaimana perkataan mereka dalam ayat tersebut “tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala”. Maka sudah sangat jelas bahwa perkataan mereka dalam ayat tersebut merupakan pelecehan terhadap al-Qur’an.
Setelah itu pada ayat selanjutnya mereka menantang Allah dengan mengatakan Jika memang al-Qur’an adalah yang benar di sisi Allah maka mereka meminta untuk diturunkan hujan batu dari langit atau berupa adzab yang pedih.      
E.     Tafsir dan Penjelasannya.
Ayat 32
 وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan ingatlah ketika mereka orang-orang musyrik berkata, “Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.”
Sudah jelas bahwa pada ayat ini orang-orang kafir menantang Allah dengan mengatakan “Ya Allah jika betul ini” yaitu al-Qur’an yang disampaikan Muhammad itu ”adalah yang haq” yaitu yang benar “dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu” yang benar-benar turun “dari langit, atau” jika siksa itu bukan berupa batu , maka “datangkanlah kepada kami” selain batu, apa saja yang berupa “adzab yang pedih”. Perkataan mereka ini bertujuan untuk mengelabui orang lain agar orang lain menganggap bahwa apa yang orang-orang kafir katakan tentang al-Qur’an yang telah  dijelaskan pada ayat sebelumnya memang benar dan sesuai dengan keyakinan mereka bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah.[5]  
Setelah mereka melecehkan al-Qur’an pada ayat sebelumnya, seharusnya orang-orang kafir meminta petunjuk /taufiq kepada Allah SWT, namun bukan itu yang mereka minta, tetapi mereka meminta  untuk diturunkan adzab yang berupa hujan batu yang turun dari langit.[6]
Hal ini menunjukkan kebodohan mereka yang terlalu parah dan kerasnya mereka dalam mendustakan al-Qur’an. Mereka sombong dan ingkar kepada al-Qur’an. Ungkapan tersebut justru berbalik membuat keaiban bagi diri mereka sendiri. Seharusnya hal yang lebih utama bagi mereka ialah hendaknya mereka mengatakan: “Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar dari sisi Engkau, maka berilah kami petunjuk kepadanya dan berilah kami kekuatan untuk mengikuti ajaran-ajarannya.” Akan tetapi, mereka meminta keputusan yang berakibat membinasakan diri mereka sendiri, dan mereka meminta untuk segera diturunkan adzab dan siksaan. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَوْلا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ}
“Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan adzab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang adzab kepada mereka, dan adzab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” ( QS. Al-Ankabut: 53).
{وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ}
“Dan mereka berkata.”Ya Tuhan kami. cepatkanlah untuk kami adzab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab.” (QS. Shad: 16).
{سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ}
“Seorang peminta telah meminta kedatangan adzab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik.” (QS. Al-Ma'arij: 1-3).
Hal yang sama dikatakan pula oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan umat terdahulu, seperti kaum Nabi Syu'aib yang mengatakan kepadanya, dijelaskan oleh firman Allah SWT.:
{فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ}
“Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Al-Syu'ara’: 187).

Sedangkan dalam ayat ini disebutkan:
{اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ}
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” (QS. Al-Anfal: 32).
Syu'bah telah meriwayatkan dari Abdul Hamid (teman Al-Ziyadi), dari Anas bin Malik, bahwa Abu Jahal bin Hisyamlah yang mengatakan seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:
{اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ}
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih”. (QS. Al-Anfal: 32).

Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ}
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33).
Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari, dari Ahmad dan Muhammad bin Nadhr, keduanya dari Ubaidillah bin Mu'adz, dari ayahnya, dari Syu'bah dengan sanad yang sama. Ahmad yang disebutkan dalam sanad ini adalah Ahmad bin Nadhr bin Abdul Wahhab. Demikianlah menurut Al-Hakim Abu Ahmad dan Al-Hakim Abu Ubaidillah Al-Naisaburi.
Al-A’masy telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih." (QS. Al-Anfal: 32) Menurutnya orang yang mengatakan demikian adalah Al-Nadhr bin Harits bin Kaladah. Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, sehubungan dengan hal ini Allah Swt. menurunkan firman-Nya: “Seorang peminta telah meminta kedatangan adzab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya.” (QS. Al-Ma'arij: 1-2).[7]

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad bin Laits, telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan, telah menceritakan kepada kami Abu Tumailah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengata­kan bahwa dalam Perang Uhud ia melihat Amr bin Ash berdiri di atas kuda kendaraannya seraya berkata, "Ya Allah, jika Al-Qur’an yang dikatakan oleh Muhammad adalah benar, maka benamkanlah diriku dan kudaku ini ke tanah."
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau.” (QS. Al-Anfal: 32), hingga akhir ayat. Bahwa yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang bodoh dan yang kurang akalnya dari kalangan umat ini.
Ayat 33
{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ}
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun”.(QS. Al-Anfal:33).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Abu Hudzaifah Musa bin Mas'ud, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar, dari Abu Zumail Simak Al-Hanafi, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik bertawaf di Baitullah seraya mengatakan, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu." Maka Nabi Saw. bersabda, "Ya, ya." Mereka mengatakan pula, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya, sedangkan dia tidak memiliki." Lalu mengatakan pula, "Ampunan-Mu, ampunan-Mu." Maka Alah Swt. menurunkan firman-Nya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan engkau berada di antara mereka.” (QS. Al-Anfal: 33), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa di kalangan mereka (orang-orang musyrik Mekah) terdapat dua keamanan yang menyelamatkan mereka dari adzab Allah, yaitu diri Nabi Saw. dan permohonan ampun. Setelah Nabi SAW. tiada, maka yang tertinggal hanyalah permohonan ampun (istighfar).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar-dari Yazid bin Ruman dan Muhammad bin Qais; keduanya mengatakan bahwa sebagian orang-orang Quraisy berkata kepada sebagian lainnya, “Muhammad telah dimuliakan oleh Allah di antara kita.” “Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau.” (QS. Al-Anfal: 32), hingga akhir ayat. Ketika sore hari mereka menyesali apa yang telah mereka katakan seraya mengatakan, “Ampunan-Mu Ya Allah.” Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya; Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka. (QS. Al-Anfal: 33) sampai dengan firman-Nya: tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al-Anfal: 34).
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa Ali bin Abu Talhah telah meriwayat­kan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.” (QS. Al-Anfal: 33).
 Allah tidak akan menurunkan adzab-Nya kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun” (QS. Al Anfal: 33) [8] Maksudnya, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah termasuk golongan orang-orang yang beriman, lalu mereka meminta ampun. Yang dimaksud dengan istighfar ialah shalat, dan yang dimaksudkan dengan mereka adalah penduduk Mekah.[9]  
Imam Turmuzi mengatakan:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيع، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْر، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُهَاجِرٍ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ يُوسُفَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنْزَلَ اللَّهُ عليَّ أَمَانَيْنِ لِأُمَّتِي: {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ} فَإِذَا مَضَيْتُ، تركتُ فِيهِمُ الِاسْتِغْفَارَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Ismail bin Ibrahim bin Muhajir, dari Abbad bin Yusuf, dari Abu Burdah bin Abu Musa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda, “Allah menurunkan dua keamanan bagi umatku,” yaitu disebutkan dalam firman-Nya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 33) Selanjutnya Nabi SAW bersabda, “Apabila aku telah tiada, maka aku tinggalkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah) di kalangan mereka sampai hari kiamat”.
Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Abdullah ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Haisam. dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ: وَعَزَّتِكَ يَا رَبِّ، لَا أَبْرَحُ أغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ. فَقَالَ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي، لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي"
Sesungguhnya setan berkata, "Demi keagungan-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi roh masih berada di kandung badan mereka.” Maka Tuhan berfirman “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku Aku Senantiasa  memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku."
Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ayat 34.
Allah memberitahukan, bahwasanya mereka layak disiksa, namun Allah tidak menimpakan siksa itu kepada mereka karena berkah keberadaan Rasulullah saw. di tengah-tengah mereka. Karena inilah saat Rasulullah keluar dari tengah-tengah mereka, Allah menimpakan siksanya kepada mereka pada perang Badar, sehingga para pembesar mereka terbunuh dan sebagiannya tertawan. Allah memberikan petunjuk kepada mereka untuk berisitighfar, meminta ampunan dari dosa-dosa yang mereka tenggelam di dalamnya, yaitu dari kemusyrikan dan tindakan pengrusakan.[10]
Qatadah, al-Suddi yang lainnya berkata: “Kaum itu tidak meminta ampunan. Seandainya mereka meminta ampunan, pastilah mereka tidak akan disiksa.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.  Kalau saja bukan karena adanya orang-orang lemah dari orang-orang yang beriman yang berisitighfar yang ada di tengah-tengah mereka, pastilah adzab itu akan datang dengan tanpa bisa ditolak, akan tetapi adzab itu tertolak karena keberadaan mereka.
Sebagaimana firman Allah pada peristiwa Hudaibiyah yang artinya:
Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil-haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 25).
Ibnu Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya’qub dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Ibnu Abza, ia berkata: “Dahulu Nabi Muhammad SAW. berada di Makkah, kemudian Allah menurunkan: وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ   (“Dan Allah tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.”) Ia berkata: Lalu Nabi SAW. keluar ke Madinah, maka Allah menurunkan: وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  (“Dan tidak [pula] Allah mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ia berkata: “Dan waktu itu kaum muslimin yang tersisa itu adalah orang-orang yang lemah.” Maksudnya orang-orang Islam yang masih ada di Mekah masih berisitighfar.
Maka pada saat mereka keluar, Allah menurunkan:
وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasainya hanyalah orang-orang yang bertakwa tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
 Lalu Allah Ta’ala mengizinkan Fathu Makkah, maka jadilah ia sebagai adzab yang dijanjikan kepada mereka.[11]
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Demikianlah penjelasan tentang tafsir surat  al-Anfal: 32-34 tentang       permintaan Orang-orang Musyrik terhadap adzab Allah SWT dan pencegahan adzab Allah terhadap mereka karena memuliakan Nabi SAW. Semoga makalah ini dapat bermanfaat terhadap penulis pribadi, serta bermanfaat terhadap orang lain, sehingga kita bisa bertambah kecintaan kita terhadap al-Quran dan tidak bersifat seperti Abu Jahal yang enggan menerima terhadap kebenaran al-Qur’an sebagaimana yang kami paparkan diatas.
Begitu pula kami sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan  menyadari bahwa dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, maka dari itu penulis mengharap kritik dan saran serta koreksi dari para pembaca. Wallahu A’lam.  




DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M. Quraish. 2009.  Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati. Vol. 4
Muhammad al-Sheikh, Abdullah bin. 1994.  Lubab al-Tafsir min Ibnu Katsir. Kairo: Muassasah Dar  al-Hilal.
Al-Zuhaili, Wahbah. 2009.  Al-Tafsir al-Munir Jilid. 5. Damaskus: Dar al-Fikr. Cet. 10.
Al-Mahalli, Jalaluddin, dan Jalaluddin al-Suyuti. 2001. Tafsir al-Jalalain. Kairo: Dar al-Hadis. Cet. 3.  
Katsir, Ibnu. 1999. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim Juz. 4. Saudi: Dar Thaybah.  Cet. 2.
Fakhruddin, M. Al-Razi. 1981. Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib Juz.15. Beirut: Dar al-Fikr. Cet. 1.



[1] Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2009), Jilid 5, Cet. 10, Hal. 326-327.
[2] Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, Hal. 328-329
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), Vol. 04, Hal. 522
[4] Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir al-Jalalain, (Kairo: Dar al-Hadis, 2001), Cet. 3, Hal. 232
[5] M. Quraish Shihab,,, Hal. 523
[6] Abdullah bin Muhammad al-Sheikh, Lubab al-Tafsir min Ibnu Katsir Jilid 4, (Kairo: Muassasah Dar al-Hilal, 1994), Cet. 1, Hal. 35.

[7] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, (Saudi: Dar Thaybah, 1999), Jilid. 4 Cet. 2 Hal. 48
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Hal. 525
[9] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Hal. 49.
[10] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Hal.50
[11] M. Al-Razi Fakhruddin, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib Juz.15, (Beirut: Dar al-Fikr,1981), Cet. 1, Hal. 164

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bersama Para Guru