Tafsir Tahlili al-anfal: 32-34
oleh :
Farid Muhlasol
Ikmal Ramadhan
PENDAHULUAN
Al-Qur’an
merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat
Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya mengandung kebenaran. Al-Qur’an
diturunkan bertujuan untuk membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya. Dan
juga al-Qur’an diturunkan sebagai
petunjuk bagi manusia.
Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap
al-Qur’an maka Allah akan menimpakan adzab yang sangat pedih.
Dalam
makalah ini akan dijelaskan tentang balasan orang-orang yang menantang Allah
serta menentang kebenaran al-Qur’an. Begitu kerasnya penantangan mereka
sehingga mereka meminta untuk diturunkan adzab. Mereka menganggap al-Qur’an
tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala.
PEMBAHASAN
Tafsir Tahlili QS.
Al-Anfal: 32-34 tentang
Permintaan Orang-orang Musyrik
terhadap adzab Allah SWT dan pencegahan adzab Allah terhadap mereka karena memuliakan Nabi SAW.
بسم الله الرحمن الرحيم
وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ
هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ
أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ
مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ
اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ
إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ.
“Dan ingatlah ketika mereka orang-orang musyrik berkata, “Ya
Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan
batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih. Tetapi Allah
tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon
ampunan. Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka
menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka
bukanlah orang-orang yang berhak
menguasainya? orang yang berhak
menguasai-Nya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka
tidak mengetahui.’’ (QS. Al-Anfal: 32-34).
A. Qiraat.
السَّمَاءِ
أَوِ Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr membaca dengan Ibdal/menggati Hamzah kedua
dengan Ya’ khalisah saat washal.
أَوِ
ائْتِنَا Warsy dan al-Susi membaca dengan mengganti
huruf Hamzah yang sukun dengan Ya’ Maddiyah أوِيْتِنا. Sedangkan Hamzah
membaca Ibdal saat waqaf saja.[1]
B. Mufradat
Lughawiyah
إِنْ كَانَ هَذَا yang dimaksud kata هذا adalah apa yang dibacakan oleh Nabi Muhammad
(Al-Qur’an). هُوَ الْحَقَّ yaitu kebenaran yang diturunkan. أَلِيمٍ sesuatu yang
memedihkan dikarenakan keingkaran mereka terhadap al-Qur’an. لِيُعَذِّبَهُمْ untuk mengadzab
mereka sesuai dengan apa yang mereka pinta. وَأَنْتَ فِيهِمْ karena adzab itu turun
secara umum, dan suatu umat tidak akan diadzab kecuali setelah keluarnya Nabi
dan orang-orang mukmin dari Mekah. يَصُدُّونَ menghalang-halangi
Nabi dan orang-orang muslim.
C.
Asbab al-Nuzul
Ayat 32
وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمّ Ibnu Jarir al-Thabari menyatakan dari Sa’id bin Jubair dalam firman-Nya وَإِذْ
قَالُوا اللَّهُمَّ dia berkata: ayat ini turun berkenaan dengan Nadhr bin
Harits ketika dia berkata: إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ
الْأَوَّلِينَ (Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang
terdahulu), maka
Nabi SAW berkata kepada Nadhr bin Harits: “Celakalah kamu, itu sungguh firman
Allah SWT”. Maka Nadhr bin Harits menjawab: “Ya Allah, jika al-Qur’an ini
benar wahyu dari Engkau maka hujanilah kami dengan batu dari langit”.
Ayat 33
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, dia berkata: Abu
Jahl bin Hisyam berkata:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ
مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ
أَلِيم
“Ya Allah, jika
al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari
langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih”. Maka turunlah ayat
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنْتَ فِيهِمْ (Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka,selama engkau (Muhammad)
berada di antara mereka”).[2]
D.
Munasabah Ayat
Pada
ayat 32 terdapat keterkaitan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 31 yang berbunyi:
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا
قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ
الْأَوَّلِينَ
yang mana pada ayat 31 dijelaskan bahwa setelah ayat-ayat
al-Qur’an dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang kafir, maka
mereka mengatakan “Sesungguhnya kami telah mendengar” ayat-ayat ini , maksudnya di sini adalah mereka mengatakan bahwa sebelumnya
mereka sudah sering mendengarkan seperti apa yang dibacakan oleh Nabi Muhammad
SAW untuk mereka, sehingga mereka mengatakan bahwa ayat-ayat yang dibacakan
tadi terdengar biasa-biasa saja, tidak ada keistimewaan sama sekali. Kemudian
mereka berkata “kalau kami menghendaki niscaya kami dapat mengucapkan
seperti ini”. Maksudnya adalah mereka bisa membuat karya-karya sastra
seperti ayat-ayat al-Qur’an kapan saja, namun pada kenyataannya mereka tidak
mampu membuat satu karya pun yang serupa dan dapat menandingi ayat-ayat al-Qur’an,
bahkan para kritikus menilai bahwa karya-karya sastra mereka sebelum dan
sesudah turunnya al-Qur’an kesemuanya sangat kecil jika dibandingkan dengan al-Qur’an,
ini adalah pengakuan tokoh-tokoh mereka sendiri.[3]
Kemudian mereka menganggap al-Qur’an ini
adalah hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala yang tertulis dalam
kitab-kitab yang tidak jelas kebenarannya,[4]
sebagaimana perkataan mereka dalam ayat tersebut “tidak lain hanyalah
dongeng-dongeng orang-orang purbakala”. Maka sudah sangat jelas bahwa
perkataan mereka dalam ayat tersebut merupakan pelecehan terhadap al-Qur’an.
Setelah
itu pada ayat selanjutnya mereka menantang Allah dengan mengatakan Jika memang al-Qur’an
adalah yang benar di sisi Allah maka mereka meminta untuk diturunkan hujan batu
dari langit atau berupa adzab yang pedih.
E.
Tafsir dan Penjelasannya.
Ayat 32
وَإِذْ
قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا
حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan ingatlah ketika mereka orang-orang musyrik
berkata, “Ya Allah, jika al-Qur’an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah
kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.”
Sudah
jelas bahwa pada ayat ini orang-orang kafir menantang Allah dengan mengatakan “Ya
Allah jika betul ini” yaitu al-Qur’an yang disampaikan Muhammad itu ”adalah
yang haq” yaitu yang benar “dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan
batu” yang benar-benar turun “dari langit, atau” jika siksa itu
bukan berupa batu , maka “datangkanlah kepada kami” selain batu, apa
saja yang berupa “adzab yang pedih”. Perkataan mereka ini bertujuan
untuk mengelabui orang lain agar orang lain menganggap bahwa apa yang
orang-orang kafir katakan tentang al-Qur’an yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya memang benar
dan sesuai dengan keyakinan mereka bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah.[5]
Setelah
mereka melecehkan al-Qur’an pada ayat sebelumnya, seharusnya orang-orang kafir
meminta petunjuk /taufiq kepada Allah SWT, namun bukan itu yang mereka minta,
tetapi mereka meminta untuk diturunkan adzab
yang berupa hujan batu yang turun dari langit.[6]
Hal ini menunjukkan
kebodohan mereka yang terlalu parah dan kerasnya mereka dalam mendustakan
al-Qur’an. Mereka sombong dan ingkar kepada al-Qur’an. Ungkapan tersebut justru
berbalik membuat keaiban bagi diri mereka sendiri. Seharusnya hal yang lebih
utama bagi mereka ialah hendaknya mereka mengatakan: “Ya Allah, jika al-Qur’an
ini benar dari sisi Engkau, maka berilah kami petunjuk kepadanya dan berilah
kami kekuatan untuk mengikuti ajaran-ajarannya.” Akan tetapi, mereka meminta
keputusan yang berakibat membinasakan diri mereka sendiri, dan mereka meminta
untuk segera diturunkan adzab dan siksaan. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam
ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَوْلا أَجَلٌ
مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا
يَشْعُرُونَ}
“Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan adzab. Kalau tidaklah
karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang adzab kepada
mereka, dan adzab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba,
sedangkan mereka tidak menyadarinya.” ( QS. Al-Ankabut: 53).
{وَقَالُوا رَبَّنَا
عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ}
“Dan mereka berkata.”Ya Tuhan kami. cepatkanlah untuk kami adzab yang
diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab.” (QS. Shad: 16).
{سَأَلَ سَائِلٌ
بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ مِنَ اللَّهِ ذِي
الْمَعَارِجِ}
“Seorang peminta telah meminta kedatangan adzab yang bakal terjadi, untuk
orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik.” (QS. Al-Ma'arij:
1-3).
Hal yang sama dikatakan
pula oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan umat terdahulu, seperti kaum
Nabi Syu'aib yang mengatakan kepadanya, dijelaskan oleh firman Allah SWT.:
{فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا
كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ}
“Maka jatuhkanlah atas
kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Al-Syu'ara’: 187).
Sedangkan dalam ayat
ini disebutkan:
{اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ
عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ
أَلِيمٍ}
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini,
dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari
langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” (QS. Al-Anfal: 32).
Syu'bah telah meriwayatkan
dari Abdul Hamid (teman Al-Ziyadi), dari Anas bin Malik, bahwa Abu Jahal bin
Hisyamlah yang mengatakan seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:
{اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ
عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ
أَلِيمٍ}
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini,
dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari
langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih”. (QS. Al-Anfal: 32).
Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
{وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ
يَسْتَغْفِرُونَ}
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka sedangkan kamu berada di
antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan
mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33).
Demikianlah menurut
riwayat Imam Bukhari, dari Ahmad dan Muhammad bin Nadhr, keduanya dari
Ubaidillah bin Mu'adz, dari ayahnya, dari Syu'bah dengan sanad yang sama. Ahmad
yang disebutkan dalam sanad ini adalah Ahmad bin Nadhr bin Abdul Wahhab.
Demikianlah menurut Al-Hakim Abu Ahmad dan Al-Hakim Abu Ubaidillah Al-Naisaburi.
Al-A’masy telah
meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang
musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah
yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau
datangkanlah kepada kami adzab yang pedih." (QS. Al-Anfal: 32)
Menurutnya orang yang mengatakan demikian adalah Al-Nadhr bin Harits bin Kaladah.
Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, sehubungan dengan hal ini Allah Swt.
menurunkan firman-Nya: “Seorang peminta telah meminta kedatangan adzab yang
bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat
menolaknya.” (QS. Al-Ma'arij: 1-2).[7]
Ibnu Murdawaih
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah
menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad bin Laits, telah menceritakan
kepada kami Abu Ghassan, telah menceritakan kepada kami Abu Tumailah, telah
menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang
mengatakan bahwa dalam Perang Uhud ia melihat Amr bin Ash berdiri di atas kuda
kendaraannya seraya berkata, "Ya Allah, jika Al-Qur’an yang dikatakan oleh
Muhammad adalah benar, maka benamkanlah diriku dan kudaku ini ke tanah."
Qatadah telah mengatakan
sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang
musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah
yang benar dari sisi Engkau.” (QS. Al-Anfal: 32), hingga akhir ayat. Bahwa
yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang bodoh dan yang kurang akalnya
dari kalangan umat ini.
Ayat 33
{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ}
“Dan Allah
sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka
Dan tidaklah (pula) Allah
akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun”.(QS. Al-Anfal:33).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada
kami ayahku telah menceritakan kepada kami Abu Hudzaifah Musa bin Mas'ud, telah
menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar, dari Abu Zumail Simak Al-Hanafi,
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik bertawaf di Baitullah
seraya mengatakan, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi
panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu." Maka
Nabi Saw. bersabda, "Ya, ya." Mereka mengatakan pula,
"Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi
panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu.
Engkau memilikinya, sedangkan dia tidak memiliki." Lalu mengatakan pula,
"Ampunan-Mu, ampunan-Mu." Maka Alah Swt. menurunkan firman-Nya: “Dan
Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan engkau berada di
antara mereka.” (QS. Al-Anfal: 33), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa di kalangan mereka
(orang-orang musyrik Mekah) terdapat dua keamanan yang menyelamatkan mereka
dari adzab Allah, yaitu diri Nabi Saw. dan permohonan ampun. Setelah Nabi SAW.
tiada, maka yang tertinggal hanyalah permohonan ampun (istighfar).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku
Al-Haris telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami
Abu Ma'syar-dari Yazid bin Ruman dan Muhammad bin Qais; keduanya mengatakan
bahwa sebagian orang-orang Quraisy berkata kepada sebagian lainnya, “Muhammad
telah dimuliakan oleh Allah di antara kita.” “Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an)
ini, dialah yang benar dari sisi Engkau.” (QS. Al-Anfal: 32), hingga
akhir ayat. Ketika sore hari mereka menyesali apa yang telah mereka katakan
seraya mengatakan, “Ampunan-Mu Ya Allah.” Maka Allah SWT. menurunkan
firman-Nya; Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka. (QS. Al-Anfal:
33) sampai dengan firman-Nya: tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS.
Al-Anfal: 34).
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa Ali bin Abu Talhah
telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Dan Allah
sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu berada di antara
mereka.” (QS. Al-Anfal: 33).
Allah tidak
akan menurunkan adzab-Nya kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada
di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka.
Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: “Dan tidaklah (pula) Allah
akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun” (QS. Al Anfal: 33) [8]
Maksudnya, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang telah ditakdirkan oleh
Allah termasuk golongan orang-orang yang beriman, lalu mereka meminta ampun.
Yang dimaksud dengan istighfar ialah shalat, dan yang dimaksudkan dengan
mereka adalah penduduk Mekah.[9]
Imam Turmuzi mengatakan:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيع،
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْر، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُهَاجِرٍ،
عَنْ عَبَّادِ بْنِ يُوسُفَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنْزَلَ
اللَّهُ عليَّ أَمَانَيْنِ لِأُمَّتِي: {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ}
فَإِذَا مَضَيْتُ، تركتُ فِيهِمُ الِاسْتِغْفَارَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Telah
menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Numair, dari Ismail bin Ibrahim bin Muhajir, dari Abbad bin Yusuf, dari Abu
Burdah bin Abu Musa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. telah
bersabda, “Allah menurunkan dua keamanan bagi umatku,” yaitu disebutkan dalam
firman-Nya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu
berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka,
sedangkan mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 33) Selanjutnya Nabi SAW
bersabda, “Apabila aku telah tiada, maka aku tinggalkan istighfar (permohonan
ampun kepada Allah) di kalangan mereka sampai hari kiamat”.
Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya
melalui hadis Abdullah ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris,
dari Darij, dari Abul Haisam. dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda:
"إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ:
وَعَزَّتِكَ يَا رَبِّ، لَا أَبْرَحُ أغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ
فِي أَجْسَادِهِمْ. فَقَالَ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي، لَا أَزَالُ أَغْفِرُ
لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي"
Sesungguhnya
setan berkata, "Demi keagungan-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa akan
menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi roh masih berada di kandung badan mereka.”
Maka Tuhan berfirman “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku Aku Senantiasa
memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun
kepada-Ku."
Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih,
tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
Ayat 34.
Allah
memberitahukan, bahwasanya mereka layak disiksa, namun Allah tidak menimpakan
siksa itu kepada mereka karena berkah keberadaan Rasulullah saw. di
tengah-tengah mereka. Karena inilah saat Rasulullah keluar dari tengah-tengah
mereka, Allah menimpakan siksanya kepada mereka pada perang Badar, sehingga
para pembesar mereka terbunuh dan sebagiannya tertawan. Allah memberikan
petunjuk kepada mereka untuk berisitighfar, meminta ampunan dari dosa-dosa yang
mereka tenggelam di dalamnya, yaitu dari kemusyrikan dan tindakan pengrusakan.[10]
Qatadah,
al-Suddi yang lainnya berkata: “Kaum itu tidak meminta ampunan. Seandainya
mereka meminta ampunan, pastilah mereka tidak akan disiksa.” Pendapat ini
dipilih oleh Ibnu Jarir. Kalau saja
bukan karena adanya orang-orang lemah dari orang-orang yang beriman yang
berisitighfar yang ada di tengah-tengah mereka, pastilah adzab itu akan datang
dengan tanpa bisa ditolak, akan tetapi adzab itu tertolak karena keberadaan
mereka.
Sebagaimana
firman Allah pada peristiwa Hudaibiyah yang artinya:
“Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil-haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 25).
“Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil-haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 25).
Ibnu
Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan
kepada kami Ya’qub dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Ibnu Abza, ia berkata:
“Dahulu Nabi Muhammad SAW. berada di Makkah, kemudian Allah menurunkan: وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنْتَ فِيهِمْ (“Dan Allah tidak akan mengadzab mereka,
sedang kamu berada di antara mereka.”) Ia berkata: Lalu Nabi SAW. keluar ke
Madinah, maka Allah menurunkan: وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ
وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (“Dan
tidak [pula] Allah mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ia
berkata: “Dan waktu itu kaum muslimin yang tersisa itu adalah orang-orang yang
lemah.” Maksudnya orang-orang Islam yang masih ada di Mekah masih
berisitighfar.
Maka
pada saat mereka keluar, Allah menurunkan:
وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ
اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ
إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Kenapa
Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk
(mendatangi) Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak
menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasainya hanyalah orang-orang yang
bertakwa tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
Lalu
Allah Ta’ala mengizinkan Fathu Makkah, maka jadilah ia sebagai adzab
yang dijanjikan kepada mereka.[11]
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Demikianlah penjelasan tentang tafsir surat al-Anfal:
32-34 tentang permintaan Orang-orang Musyrik
terhadap adzab Allah SWT dan pencegahan adzab Allah terhadap mereka karena memuliakan Nabi SAW. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat terhadap penulis pribadi, serta bermanfaat
terhadap orang lain, sehingga kita bisa bertambah kecintaan kita terhadap
al-Quran dan tidak bersifat seperti Abu Jahal yang enggan menerima terhadap
kebenaran al-Qur’an sebagaimana yang kami paparkan diatas.
Begitu
pula kami sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan menyadari bahwa dalam makalah ini terdapat
banyak kesalahan, maka dari itu penulis mengharap kritik dan saran serta
koreksi dari para pembaca. Wallahu A’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir
al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati. Vol. 4
Muhammad al-Sheikh, Abdullah bin. 1994. Lubab al-Tafsir min Ibnu Katsir.
Kairo: Muassasah Dar al-Hilal.
Al-Zuhaili, Wahbah. 2009. Al-Tafsir
al-Munir Jilid. 5. Damaskus: Dar al-Fikr. Cet. 10.
Al-Mahalli, Jalaluddin, dan Jalaluddin al-Suyuti. 2001. Tafsir
al-Jalalain. Kairo: Dar al-Hadis. Cet. 3.
Katsir,
Ibnu. 1999. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim Juz. 4. Saudi: Dar
Thaybah. Cet. 2.
Fakhruddin,
M. Al-Razi. 1981. Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib Juz.15. Beirut:
Dar al-Fikr. Cet. 1.
[1] Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, (Damaskus: Dar
al-Fikr, 2009), Jilid 5, Cet. 10, Hal.
326-327.
[4] Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir
al-Jalalain, (Kairo: Dar al-Hadis, 2001), Cet. 3, Hal. 232
[6] Abdullah bin Muhammad al-Sheikh, Lubab al-Tafsir min Ibnu Katsir
Jilid 4, (Kairo: Muassasah Dar al-Hilal, 1994), Cet. 1, Hal. 35.
[11] M. Al-Razi Fakhruddin, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib
Juz.15, (Beirut: Dar al-Fikr,1981), Cet. 1, Hal. 164
Tidak ada komentar:
Posting Komentar