Rabu, 07 Maret 2018
Kamis, 01 Februari 2018
Muhasabah.....Untuk Apa???
Untuk Apa?
Untuk apa sampean mencemooh orang yg bacaan salamnya tidak se-fasih sampean? Kalau sampean paham bahwa ucapan salam itu maknanya mendoakan dan menebar kedamaian, tak akan mudah sampean mencaci orang lain.
Untuk apa sampean mengolok-olok orang yang tidak fasih membaca “la haula wa la quwwata illa billah”? Kalau sampean paham bahwa makna ucapan itu merupakan puncak ketidakberdayaan seorang hamba, masihkah sampean berani “punya daya & kuasa” mencibir org lain tanpa ijinNya?
Untuk apa sampean nyinyir terhadap bacaan al-Fatihah orang lain yg tdk se-fasih lidah sampean? Kalau sampean paham makna surat al-Fatihah, susah-payah sampean hendak tuntas membacanya saat shalat. Sampean akan terus menangis terisak, mana sempat lagi ngurusi ibadah org lain!
Untuk apa sampean mencela orang yg tak pandai berzikir selepas shalat? Kalau sampean paham makna “Subhanallah” tak akan sampean mrs plg suci; kalau paham “Alhamdulillah” tak akan sampean menjilat atasan, kalau paham “Allahu Akbar” tak akan sampean membesarkan diri mrs plg benar.
Satu lagi, jangan sampai kita termasuk mrk yg dijelaskan Nabi sbg org yg fasih membaca Qur’an tapi bacaannya hanya sampai di kerongkongan, tidak masuk ke dalam hati, dan tdk membekas di tingkah laku sehari-hari. Fasih membaca ayatNya, tapi kok fasih juga mencela orang lain?!
Bismillah, semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Selamat beraktivitas semuanya. Barakallah 🙏
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Untuk apa sampean mencemooh orang yg bacaan salamnya tidak se-fasih sampean? Kalau sampean paham bahwa ucapan salam itu maknanya mendoakan dan menebar kedamaian, tak akan mudah sampean mencaci orang lain.
Untuk apa sampean mengolok-olok orang yang tidak fasih membaca “la haula wa la quwwata illa billah”? Kalau sampean paham bahwa makna ucapan itu merupakan puncak ketidakberdayaan seorang hamba, masihkah sampean berani “punya daya & kuasa” mencibir org lain tanpa ijinNya?
Untuk apa sampean nyinyir terhadap bacaan al-Fatihah orang lain yg tdk se-fasih lidah sampean? Kalau sampean paham makna surat al-Fatihah, susah-payah sampean hendak tuntas membacanya saat shalat. Sampean akan terus menangis terisak, mana sempat lagi ngurusi ibadah org lain!
Untuk apa sampean mencela orang yg tak pandai berzikir selepas shalat? Kalau sampean paham makna “Subhanallah” tak akan sampean mrs plg suci; kalau paham “Alhamdulillah” tak akan sampean menjilat atasan, kalau paham “Allahu Akbar” tak akan sampean membesarkan diri mrs plg benar.
Satu lagi, jangan sampai kita termasuk mrk yg dijelaskan Nabi sbg org yg fasih membaca Qur’an tapi bacaannya hanya sampai di kerongkongan, tidak masuk ke dalam hati, dan tdk membekas di tingkah laku sehari-hari. Fasih membaca ayatNya, tapi kok fasih juga mencela orang lain?!
Bismillah, semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Selamat beraktivitas semuanya. Barakallah 🙏
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Senin, 08 Januari 2018
Makalah Studi Naskah Tafsir 1
Tafsir
Mafatih Al-Ghaib Surat Al-A’raf 34 & Al-Hijr 4-5
“Kehancuran Bangsa-Bangsa”
Oleh:
Farid Muhlasol
M Syukron Ali Habibi
PEMBUKAAN
Al-Qur’an pada hakikatnya adalah kitab suci yang diturunkan Allah
kepada nabi Muhammad untuk manusia sebagai hudan li al nas dan sebagai kitab
penerang agar manusia bisa keluar dari kegelapan menuju kehidupan yang terang
benderang. Walaupun ditunrunkan di tengah-tengah bangsa Arab dan dengan bahasa
Arab, akan tetapi al-Qur’an ditujukan kepada seluruh umat manusia.
Dengan keberadaan al-Qur’an ditengah-tengah umat Islam, maka
al-Qur’an dijadikan sebagai tolak ukur dan pembeda antara yang hak dan yang
bathil. Kemudian, bermunculan karya-karya tafsir yang mana bertujuan untuk
memahami isi kandungan yang ada di dalam al-Qur’an agar dapat menjawab
permasalahan umat manusia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa,
semakin luasnya keanekaragaman karya-karya tafsir maka, para mufasir pun
mempunyai cara berfikir yang berbeda-beda pula.
Terlepas itu semua, maka tidak etis apabila kajian-kajianya terhadap
kitab-kitab tafsirnya terlewatkan. Dan perlu diketahui bahwa, sesungguhnya
kajian tersebut sangat bermanfaat untuk dikaji dan diteliti.
Terlebih dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib karya Al-Razy yang banyak
menekankan dimensi keluasan makna ayat Al-Quran dalam tafsirnya. Dengan tema
kehancuran bangsa-bangsa, kiat dapat mengambil pelajaran tentang sebab-sebab
kehancuran umat-umat terdahulu dan bagaimana mengambil ibrah dari kisah hidup
mereka.
Jumat, 05 Januari 2018
Tafsir Maudhu'i Aqidah QS. al-Baqoroh: 142-152
Tafsir
Maudlu’i ‘Aqidah ayat 142-152
Oleh: Farid Muhlasol
Sejarah Perpindahan
arah kiblat dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsha
سَيَقُولُ
السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا
قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Orang – orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: '
Apakah yang memalingkan mereka (umat islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang
dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? Katakanlah (Muhammad): kepunyaan
alloh-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendakinya kejalan yang lurus .
السفهاء
merupakan berasal dari kata السفه yang
berarti keburukan / kebodohan suatu akal, pikiran, dan akhlak, yakni orang-orang kurang
pikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud dari pemindahan kiblat. Ada
yang mengatakan, bahwa yang dimaksud sufaha’ disini adalah orang-orang musyrik
arab. Demikian dikemukakan al-Zajaaj. Ada
juga yang mengatakan, ‘’para pendeta yahudi’’ demikian kata Mujahid. Sedangkan
al-Sudi
mengemukakan, ‘’yang dimaksudkan adalah orang – orang munafik.’’
Tafsir Tahlili Ali Imran 100-110
Tafsir Tahlili QS. Ali Imran: 100-110
Oleh: Farid Muhlasol
بِاسْمِ اللّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
كَافِرِينَ
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ
تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ
فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Hai orang – orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari
orang –orang yang diberi al – Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu
menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (
3:100 )
Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat – ayat Allah
dibacakan kepada kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) allah,
maka sesungguhnya ia telah diberi
petunjuk kepada jalan yang lurus. (3:101)
Pada ayat ini ada term Utu Al-Kitab, Dalam buku Wawasan Al-Quran
Prof. Quraisy Syihab term Utu Al-Kitab di Al-Quran terulang delapan belas kali.
Selain istilah Utu Al-Kitab, Al-Quran juga menggunakan istilah Ahl Al-Kitab
yang terulang sebanyak tiga puluh kali dalam Al-Quran, Utu Nashiban Mina Al-Kitab tiga kali, Al-
Yahud delapan kali, Al-Ladzina Hadu
sepuluh kali, Bani Israil empat puluh kali, dan An-Nashara empat belas kali.
Latihan Makhorijul Huruf
LATIHAN MAKHORIJUL HURUF DENGAN
REDAKSI HURUF-HURUF YANG MIRIP.
Oleh: Farid Mukhlason
1.
Huruf Hamzah dan A’in ( أ, ع )
v
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ.
v
وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي
فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ.
v
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ.
v
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Langganan:
Postingan (Atom)

